Makalah Kepemimpinan Manajemen


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. karena atas rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah berjudul Kepemimpinan.
Makalah ini dapat diselesaikan karena kerja keras dan kerja sama yang baik setiap anggotanya. Tanpa kerja keras dan kerja sama, makalah ini tidak mungkin dapat diselesaikan.
Dalam menyusun makalah ini, kami mendapat kesulitan dalam mengumpulkan materi, data, serta waktu dan biaya. Namun semua kesulitan itu dapat diatasi berkat bantuan dari semua pihak, di antaranya :
1. ......  selaku dosen mata kuliah ......
2. Orang tua dan para sahabat yang mendukung dan membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memperluas ilmu pengetahuan. Kami sadar bahwa makalah ini masih belum sempurna, maka dari itu kami meminta kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah di masa yang akan datang.




......, .....



PENULIS,


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Rumusan masalah 3
1.3 Tujuan 4
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
2.1 Pengertian Kepemimpinan 5
2.2 Fungsi dan Peranan Kepemimpinan 7
2.3 Gaya Dasar Kepemimpinan 11
2.4 Tipe – Tipe Kepemimpinan 15
2.5 Teori – Teori Kepemimpinan 18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan 20
DAFTAR PUSTAKA 21




1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.

Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.

Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan mengerakkan orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Dengan kata lain tercapai atau tidak tujuan suatu organisasi sangat tergantung pada pimpinannya. Dewasa ini banyak terdapat kegiatan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun oleh swasta yang berkaitan dengankepemimpinan, misalnya simposium, seminar dan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk membahas bagaimana kepemimpinan itu. 

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan?
2. Apa fungsi dan peranan kepemimpinan?
3. Bagaimana gaya dasar kepemimpinan?
4. Bagaimana isi dari tipe – tipe kepemimpinan?
5. Bagaimana isi dari teori – teori kepemimpinan?

1.3 Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui arti kepemimpinan
2. Untuk mengetahui fungsi dan peranan kepemimpinan
3. Untuk mengetahui gaya dasar kepemimpinan
4. Untuk mengetahui isi dari tipe – tipe kepemimpinan
5. Untuk mengetahui isi dari teori – teori kepemimpinan





BAB  II
PEMBAHASAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang artinya dalam keadaan dibimbing dan dituntun. Kepemimpinan mempunyai arti perihal pemimpin dan cara memimpin.

Kepemimpinan juga memiliki pengertian yaitu kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.

Adapun defenisi dari kepemimpinan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1. George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998:17)
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan
2. G.L.Feman & E.K.Aylor (1950)
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok mencapai tujuan organisasi dengan efektifitas maksimum dan kerjasama dari tiap-tiap individu.
3. C.M Bundel “Is Leadership losing its importance”
Kepemimpinan adalah seni mendorong/mempengaruhi orang-orang lain untuk mengerjakan apa yang dikehendaki seseorang pemimpin untuk dikerjakannya.
4. R.C.Davis “The Fundamentals of Top Management”
Kepemimpinan sebagai kekuatan dinamika yang pokok yang mendorong memotivasi, dan mengkoordinasikan organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuannya.

Menurut Handoko, 1997 kepemimpinan memiliki tiga implikasi penting yaitu :
Kepemimpinan menyangkut orang lain, bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin dimana peta anggota kelompok membantu menemukan status atau kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa bawahan, kepemimpinan tidak aka nada.
Kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin memiliki wewenang untuk mengarahkan berbagai kegiatan para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan – kegiatan pemimpin secara langsung meskipun dapat juga melalui sejumlah cara secara tidak seimbang. Menurut French and Raven (1968) kekuatan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari hal – hal sebagai berikut :
a. Reward power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin memiliki kemampuan memberikan hadiah / pujian bagi bawahan yang mengikuti arahan pemimpinnya.
b. Coersive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin memiliki kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan – arahan pemimpinnya.
c. Legitimate power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin memiliki hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimiliki.
d. Referent power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya, atau karismanya.
e. Ekspert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam bidangnya. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk – bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
Selain dapat memberikan pengarahan pada bawahan atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh. Dengan kata lain, pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilaksakannya, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Maka kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertangggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cogmicance), kepercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain (confidence), dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (coummunication) dalam membangun organisasi. Kepemimpinanan merupakan salah satu tugas manajer, dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, kepemimpinan merupakan salah satu fungsi dan manajemen. Sedangkan Wilson Bangun (2008) menyatakan kepemimpinan memiliki empat unsur, yaitu kumpulan orang, kekuasaan, memengaruhi dan menilai.

             Menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok
kepemimpinan yaitu :
1. Fungsi Instruktif
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.
2. Fungsi Konsultatif
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.

3. Fungsi Partisipasi
Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.
4. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.
5. Fungsi Pengadilan
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

Kemudian menurut Yuki (1998) fungsi kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi dan mengarahkan karyawan untuk bekerja keras, memiliki semangat tinggi, dan memotivasi tinggi guna mencapai tujuan organisasi. Hal ini terutama terikat dengan fungsi mengatur hubungan antara individu atau kelompok dalam organisasi. Selain itu, fungsi pemimpin dalam mempengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok bertujuan untuk membantu organisasi bergerak kearah pencapaian sasaran. Dengan demikian, inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukannya daiam organisasi, melainkan bagaimana pemimpin melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin

Menurut H.G. Hicks dan C.R. Gullett dalam bukunya yang berjudul Organization: theory and Behavior  tahun 1979 menyebutkan bahwa peranan kepemimpinan adalah : bersikap adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan yang terahkir mau menghargai. Masing-masing peranan tersebut, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dalam organisasi manpun, rasa kebersamaan di antara para anggotanya adalah mutlak, sebab rasa kebersamaan  pada hakikatnya merupakan pencerminan dari pada kesepakatan antara para bawahan, maupun antara pemimpin dengan bawahan, dalam mencapai tujuan organisasi. Tapi dalam hal tertentu mungkin akan timbul ketidaksesuian antara para bawahan (timbul persoalan).  Apabila diantara mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan, pemimpin perlu turun tangan untuk segera menyelasaikan. Dan dalam hal memecahkan persoalan hubungan diantara bawahan, pemimpin harus bersikap adil tidak memihak.
Sugesti biasa disebut saran atau anjuran. Dalam kepemimpinan sugesti merupakan pengaruh yang mampu mengerakan hati orang lain. Sugesti mempunyai peranan yang sangat penting di dalam memelihara dan membina harga diri serta rasa pengabdian partisipasi dan rasa kebersamaan diantara para bawahan.
Tercapainya tujuan organisasi tidak otomatis, melainkan harus didukung oleh adanya kepemimpinan. Oleh karena itu, agar setiap organisasi dapat efektit dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan, maka setia tujuan yang ingin dicapai perlu disesuaikan dengan keadaan organisasi, serta memungkin para bawahan untuk bekerja sama.
Dalam dunia kepemimpinan, seorang pemimpin dikatakan sebagai seorang katalisator, apabila pemimpin itu berperan, yang selalu dapat meningkatkan segala sumber daya manusia yang ada. Berusaha dapat meningkatkan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat dan semaksimal mungkin.
Setiap pemimpin berkewajiban menciptakan rasa aman bagi para bawahannya. Dan fungsi ini, hanya dapat dilaksanakan apabila pemimpin selalu memelihara hal-hal yang positip, sikap optimisme dalam menghadapai segala permasalahan yang ada, sehingga bawahan dalam menjalankan tugas merasa  aman, bebas dari kegelisahan, kekawatiran, merasa memperoleh jaminan keamanan dari pimpinan.
f. Sebagai wakil organisasi (representing)
Seorang pemimpina adalah segala-galanya. Oleh karenanya, segala perilaku, perbuatan, dan kata-katnya akan selalu memberikan kesan tertentu terhadap organisasinya. Penampilan dan kesan-kesan pemimpin yang positif seorang pemimpin juga akan memberikan gambaran positip terhadap organisasi yang dipimpinnya.
g. Sumber inspirasi (inspiring)
Seorang pemimpin pada hakekatnya adalah sebagai sumber inspirasi bagi bawahannya. Oleh karena itu, setiap pemimpin harus selalu dapat membangkitkan semangat para bawahannya, sehingga para bawahannya menerima dan memahami apa yang menjadi tujuan organisasinya secara antusias, dan bekerja secara efektif kea rah tercapainya tujuan organisasi.
h. Bersikap menghargai (praising)
Setiap orang pada dasarnya menghendaki ada pengakuaan pada hasil karyanya  dari orang lain. Demikian pula setiap bawahan dalam organisasi memerlukan adanya pengakuan dan penghargaan dari atasan. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memberikan pengargaan pada bawahannya baik dalam bentuk verbal maupun non verbal. Dengan demikian peranan kepemimpinan (leadership functions), pada hakekatnya merupakan serangakain tugas-tugas atau bagaimana posisi seorang pemimpin dalm mempengaruhimatau mengerakan bawahan, sehingga dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab bawahan berperilaku mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Gaya dasar kepemimpinan :
Gaya kepemimpinan di mana pemimpin banyak memberikan pengarahan tetapi sedikit memberikan dukungan terhadap bawahan. Gaya kepemimpinan yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan dirujuk sebagai “instruksi” karena gaya ini dicirikan dengan komunikasi satu arah. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pada umumnya penelitian-penelitian tentang kepemimpinan merumuskan konsep kepemimpinan sebagai proses pertukaran timbal balik. Misalnya, anak buah akan menerima imbalan berdasarkan perilakunya yang sesuai dengan keinginan sang pemimpin. Imbalan tersebut bisa bersifat material (upah, insentif) atau immaterial (kebanggaan/kepuasan). Teori kepemimpinan transaksional dilandasi oleh ide bahwa hubungan pemimpin dan anak buah merupakan serangkaian pertukaran atau tawar menawar secara implisit. Peran pemimpin adalah sebagai pengisi kekosongan dalam hubungan pekerja dengan pekerjaaannya serta lingkungannya. Ketika pekerjaan dan lingkungan tidak menyediakan bimbingan, kepuasan, dorongan motivasi, maka adalah tugas pemimpin untuk menyediakan hal-hal tersebut. Dalam organisasi pemerintahan sangat lazim terjadi hubungan pimpinan-bawahan yang bersifat transaksional sehingga kadang-kadang jika pimpinan lupa atau lalai tidak memberikan dukungan atau imbalan yang setimpal maka kinerjanya langsung menurun. Hal semacam itu tidak akan terjadi jika sang pemimpin memiliki kualitas yang menunjukkan dukungan. Bagi para pengikutnya, pemimpin yang tidak mengabaikan pemberian dukungan dapat mendorong mereka untuk bertindak melebihi yang diharapkan. Mereka mau berkorban dan merasa iklas untuk bekerja sehingga bisa lebih mandiri dan lebih maju atau berkinerja tinggi dalam bekerja.
2. Gaya Kepemimpinan Konsultatif
Pemimpin yang bergaya kepemimpinan konsultasi menunjukkan sikap banyak memberikan pengarahan tetapi juga memberikan banyak dukungan terhadap bawahan. Artinya, keputusan dan kebijakan yang diambil berdasarkan masukan dari bawahannya, tetapi di bawah kendali pengawasan dan pengarahan untuk menyelesaikan tugas-tugas bawahannya. Bagi banyak bawahan gaya seperti ini dipandang sebagai gaya kepemimpinan yang efektif. Gaya pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan dirujuk sebagai “konsultatif” karena dalam menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi diikuti dengan meningkatkan komunikasi dua arah dengan berusaha mendengar ide-ide dan saran bawahan meskipun pengambilan keputusan tetap pada pemimpin. Gaya kepemimpinan konsultatif ini memiliki kemiripan dengan gaya perilaku kepemimpinan transformasional, yaitu suatu bentuk kepemimpinan yang lebih mengedepankan proses pelayanan terhadap nilai-nilai para pengikut untuk tujuan organisasional yang lebih tinggi. Dalam konteks ini kepemimpinan transformasional tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai para pengikut atau bawahan, tetapi lebih menekankan pada konsep hubungan antara visi para pemimpin dalam organisasi dengan nilai-nilai para pengikutnya. Kepemimpinan konsultasi atau perilaku kepemimpinan transformasional memiliki dampak yang melebihi gaya kepemimpinan instruktif atau perilaku kepemimpinan transaksional, yaitu mengilhami dan memotivasi anak buah untuk berbuat lebih dari yang diharapkan. Indikator langsung dari adanya kepemimpinan konsultasi ini terletak pada perilaku pengikutnya yang didasarkan pada persepsi mereka terhadap sang pemimpin. Bawahan yang mempersepsi perilaku kepemimpinan atasannya sebagai perilaku konsultasi atau transformasional akan mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam melakukan tugas-tugasnya.
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Gaya kepemimpinan partisipatif lebih menekankan pada tingginya dukungan dalam pembuatan keputusan dan kebijakan tetapi sedikit pengarahan. Gaya pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “partisipatif” karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Dengan penggunaan gaya partisipatif ini, pemimpin dan bawahan saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Dalam aktivitas menjalankan organisasi, pemimpin yang menerapkan gaya ini cenderung berorientasi kepada bawahan dengan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibandingkan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka mendorong para anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok. Selain itu gaya ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat perspektif baru. Melalui gaya ini, pemimpin terus merangsang kreativitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama. Bawahan didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan bentuk organisasi yang ada. Bawahan didorong untuk melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. Dengan kata lain, bawahan diberi kesempatan untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya melalui tugas-tugas yang dihadapinya. Pemimpin gaya partisipatif menunjukkan perilaku dan perhatian terhadap anak buah yang sifatnya individual (individual consideration). Artinya dia bisa memahami dan peka terhadap masalah dan kebutuhan tiap-tiap anak buahnya. Hal ini tercermin dari persepsi anak buah yang merasa bahwa sang pemimpin mampu memahami dirinya sebagai individu. Setiap anak buah merasa dekat dengan pemimpinnya dan merasa mendapat perhatian khusus. Perhatian individual dapat berupa aktivitas pembimbingan dan mentoring, yang merupakan proses pemberian feedback yang berkelanjutan dan pengkaitan misi organisasi dengan kebutuhan individual sang anak buah. Dengan demikian anak buah akan merasakan pentingnya berusaha dan bekerja semaksimal mungkin atau menunjukkan kinerja yang tinggi karena itu terkait langsung dengan kebutuhannya sendiri. Bawahan lebih merasa memiliki respek terhadap atasan yang kompeten dibandingkan atasan yang lebih mengedepankan aspek struktur.
4. Gaya Kepemimpinan Delegatif
Gaya kepemimpinan delegatif dicirikan dengan perilaku pimpinan yang hanya sedikit memberikan pengarahan, dan juga tidak mau memberikan dukungan, gaya pendelegasian keputusan dan tanggung jawab penuh dalam melaksanakannya diserahkan kepada bawahan. Gaya pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “delegatif” karena pemimpin mendiskusikan masalah bersama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah yang kemudian proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Pemimpin yang bergaya delegasi dicirikan:
(1) ia tidak mempunyai percaya diri sebagai seorang pemimpin,
 (2) ia tidak menetapkan tujuan untuk kelompok,
(3) ia membiarkan keputusan dibuat oleh siapa saja dalam kelompok yang    menghendakinya,
 (4) akibat sikapnya, produktivitas pada umumnya rendah,
(5) anggota kelompok menjadi tidak berminat pada tugasnya atau pekerjaannya, dan (6) semangat kerja dan kerja tim pada umumnya menjadi rendah.

Dalam batas-batas tertentu gaya kepernimpinan dapat saja digunakan apabila anggota atau orang-orang yang terikat dalam kelompok itu menunjukkan tingkat kematangan yang tinggi, mampu dan mau bekerja, artinya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya dan besar rasa tanggung jawabnya, serta tinggi motivasinya. Mereka ini biasanya sudah memahami tentang apa yang mereka harus lakukan, kapan dan bagaimana melakukannya, sehingga bila terlalu banyak diarahkan justru dapat menurunkan motivasi kerja. Sebaliknya, bagi bawahan yang tingkat kematangannya masih sangat rendah, dan tidak mendapat dukungan serta pengarahan yang memadai, maka cenderung kinerjanya



2.4 Tipe Kepemimpinan
Tipe kepemimpinan dapat disebut dengan model (gaya) kepemimpinan seseorang. Tipe kepemimpinan yang secara luas dikenal adalah sebagai berikut.
1.      Tipe Otoriter
Disebut juga tipe kepemimpinan authoritarian. Dalam kepemimpinan ini, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan kekuasaan dari pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undang-undang. Bawahan hanya bersifat sebagai pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah dan tidak boleh membantah atau mengajukan saran. Mereka harus patuh dan setia kepada pemimpin secara mutlak.
Kelebihan:
a. Keputusan dapat diambil secara cepat
b. Mudah dilakukan pengawasan
Kelemahan:
a. Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat atau musyawarah.
b. Setiap perbedaan diantara anggota kelompoknya diartikan sebagai kelicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau instruksi yang telah diberikan.
c. Inisiatif dan daya pikir anggota sangat dibatasi, sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
d. Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter hanyalah berarti mengontrol, apakah  segala perintah yang telah diberikan ditaati atau dijalankan dengan baik oleh anggotanya.
e. Mereka melaksanakan inspeksi, mencari kesalahan dan meneliti orang-orang yang dianggap tidak taat kepada pemimpin, kemudian orang-orang tersebut diancam dengan hukuman, dipecat, dsb. Sebaliknya, orang-orang yang berlaku taat dan menyenangkan pribadinya, dijadikan anak emas dan bahkan diberi penghargaan.
f. Kekuasaan berlebih ini dapat menimbulkan sikap menyerah tanpa kritik dan kecenderungan untuk mengabaikan perintah dan tugas jika tidak ada pengawasan langsung.
g. Dominasi yang berlebihan mudah menghidupkan oposisi atau menimbulkan sifat apatis.
2. Tipe Laissez-faire (Bahasa Perancis  : “biarkan mereka sendiri”)
Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan kepemimpinannya, dia membiarkan bawahannya berbuat sekehendaknya.Pemimpin akan menggunakan sedikit kekuasaannya untuk melakukan tugas mereka.Dengan demikian sebagian besar keputusan diambil oleh anak buahnya.Pemimpin semacam ini sangat tergantung pada bawahannya dalam membuat tujuan itu.Mereka menganggap peran mereka sebagai ‘pembantu’ usaha anak buahnya dengan cara memberikan informasi dan menciptakan lingkungan yang baik.
Kelebihan:
a. Keputusan berdasarkan keputusan anggota
b. Tidak ada dominasi dari pemimpin
Kekurangan:
a. Pemimpin sama sekali tidak memberikan control dan koreksi terhadap pekerjaan bawahannya.
b. Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan sepenuhnya kepada bawahannya tanpa petunjuk atau saran-saran dari pemimpin. Dengan demikian mudah terjadi kekacauan dan bentrokan.
c. Tingkat keberhasilan anggota dan kelompok semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpin.
d. Struktur organisasinya tidak jelas atau kabur, segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pimpinan.
3. Tipe Demokratis
Pemimpin ikut berbaur di tengah anggota kelompoknya. Hubungan pemimpin dengan anggota bukan sebagai majikan dengan bawahan, tetapi lebih seperti kakak dengan saudara-saudaranya. Dalam tindakan dan usaha-usahanya ia selalu berpangkal kepada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan dan kemampuan kelompoknya.
Kelebihan:
a. Dalam melaksanalan tugasnya, ia mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran dari kelompoknya.
b. Ia mempunyai kepercayaan pula pada anggotanya bahwa mereka mempunyai kesanggupan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab.
c. Ia selalu berusaha membangun semangat anggota kelompok dalam menjalankan dan mengembangkan daya kerjanya dengan cara memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan. Di samping itu, ia juga memberi kesempatan kepada anggota kelompoknya agar mempunyai kecakapan memimpin dengan jalan mendelegasikan sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya.
Kekurangan:
a. Proses pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih banyak.
b. Sulitnya pencapaian kesepakatan.

Tipe ini disebut juga semi demokratis atau manipulasi diplomatic. Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratis hanya tampaknya saja bersikap demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Misalnya jika ia mempunyai ide-ide, pikiran, atau konsep yang ingin diterapkan di lembaga Pendidikannya, maka hal tersebut akan dibicarakan dan dimusyawarahkan dengan bawahannya, tetapi situasi diatur dan diciptakan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya bawahan didesak agar menerima ide atau pikiran tersebut sebagai keputusan bersama. Pemimpin ini menganut demokrasi semu dan lebih mengarah kepada kegiatan pemimpin yang otoriter dalam bentuk yang halus, samar-samar, dan yang mungkin dilaksanakan tanpa disadari bahwa tindakan itu bukan tindakan pimpinan yang demokratis.
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai yang dianut, sikap, dan perilaku serta gaya dari si pemimpin.

Pada dasarnya teori kepemimlpinan dapat dibedakan ke dalam tiga pendekatan (Robbins, 1993) yaitu kepemimpinan sifat (Traits theories), pendekatan perilaku (Behavioral theories), dan pendekatan situasional (Contingencies theories).
a) Teori sifat
Teori sifat mengatakan bahwa kepemimpinan diidentifikasikan berdasar atas sifat atau ciri yang dimiliki oleh para pemimpin. Pendekatan ini mengemukakan bahwa ada karakteristik tertentu seperti fisik, sosialisasi dan intelegence (kecerdasan) yang esensial bagi kepemimpinan efektif, yang merupakan kualitas bawaan seseorang.
Stogdill (1974) mengemukakan dari berbagai penelitian telah diidentifikasi cirri – cirri spesifik yang dikaitkan dengan kemampuan kepemimpinan, yaitu ciri – ciri fisik (kekuatan, penampilan, tinggi badan dan sebagainya). Ciri – cirri kecerdasan dan kemampuan, ciri – ciri kepribadian (antusiasme, adaptasi, agresivitas, dan sebagainya), karakteristik hubungan tugas (inisiatif, dorongan berpartisipasi) dan karakteristik – karakteristik sosial (kemampuan antar pribadi, kerja sama, dan kemampuan administrative).
Secara umum studi tentang ciri – ciri ini tidak mampu menjelaskan kepemimpinan yang efektif. Tidak semua pemimpin memiliki ciri – ciri yang dimaksud dan sebaliknya banyak orang yang bukan pemimpin memiliki hampir semua ciri tersebut.
b) Teori Perilaku (Behavior Theories)
Teori ini berusaha menjelaskan apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang efektif, bagaimana mereka mendelegasikan tugas, berkomunikasi dan memotivasi bawahan. Menurut teori ini, seseorang dapat belajar dan mengembangkan diri menjadi seorang pemimpin yang efektif, tidak tergantung pada sifat – sifat yang sudah melekat padanya. Jadi seorang pemimpin bukan dilahirkan untuk menjadi pemimpin, namun untuk menjadi seorang pemimpin dapat dipelajari dari apa yang dilakukan oleh pemimpin efektif ataupun dari pengalaman.
c) Teori Situasional (Contingencies Theories)
Teori ini secara garis besar menjelaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sangat tergantung terhadap situasi dan gaya kepemimpinan yang digunakannya. Untuk situasi yang berbeda, maka digunakan gaya kepemimpinan yang berbeda pula.
Tingkah laku dalam gaya kepemimpinan ini dapat dipelajari dari proses belajar dan pengalaman pemimpin tersebut, sehingga seorang pemimpin untuk menghadapi situasi yang berbeda akan menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan keadaan tersebut.






BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Fungsi Kepemimpinan
1. Fungsi Instruktif
2. Fungsi Konsultatif
3. Fungsi Partisipasi
4. Fungsi Delegasi
5. Fungsi Pengendalian
Peranan kepemimpinan adalah : bersikap adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan yang terahkir mau menghargai.
Gaya Kepemimpinan
1. Gaya Kepemimpinan Instruktif
2. Gaya Kepemimpinan Konsultatif
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
4. Gaya Kepemimpinan Delegatif
Tipe Kepemimpinan
1. Tipe Otoriter
2. Tipe Laissez-faire
3. Tipe Demokratis
4. Tipe Pseudo-demokratis
5. Tipe Kharismatik
Teori Kepemimpinan
1. Teori sifat
2. Teori perilaku
3. Teori situasional


DAFTAR PUSTAKA


http://ratusanmakalah.wordpress.com/2012/09/27/makalah-kepemimpinan/
http://laporanlengkappraktikumkimia.blogspot.com/2012/11/contoh-makalah-kepemimpinan.html
http://libraez.blogspot.com/2012/12/makalah-kepemimpinan_842.html
Pudjosumedi, Handayani Trisni, Ella Sulhah Saidah, Istaryatiningtias. 2013. Profesi Pendidikan. Jakarta: Uhamka Press.


0 comments