Media Pembelajaran PKn sd

Makalah Media Pembelajaran PKn SD


Kumpulan Media Pembelajaran Pkn
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas dalam menyampaikan pesan – pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.

Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Bahan pelajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar diproses oleh anak didik. Apalagi bagi anak didik yang kurang menyukai bahan pelajaran yang disampaikan itu.

Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.

Sebagai alat bantu, media memiliki fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajara peserta didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.

Walaupun begitu, penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut sekehendak hati guru. Tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan. Media yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran tentu lebih diperhatikan. Sedangkan media yang tidak menunjang tentu saja harus disingkirkan jauh – jauh untuk sementara. Kompetensi guru sendiri patut dijadikan perhitungan. Apakah mampu atau tidak untuk mempergunakan media tersebut. Jika tidak, maka jangan mempergunakannya, sebab hal itu akan sia – sia. Malahan bisa mengacaukan jalannya proses belajar mengajar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud denganmedia pembelajaran?
2. Bagaimana klasifikasi media pembelajaran?
3. Bagaimana cara mendesain media pembelajaran?
4. Apa saja kriteria pemilihan media?
5. Bagaimana prosedur pemilihan media pembelajaran?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan media pembelajaran
2. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi media pembelajaran
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mendesain media pembelajaran
4. Untuk mengetahui apa saja kriteria pemilihan media
5. Untuk mengetahui bagaimana prosedur pemilihan media pembelajaran


Baca dan Unduh Juga Makalah Lainnya:
Makalah Implementasi Kurikulum - Gudang Makalah
Makalah Media Pembelajaran PKn Sekolah Dasar Download
Makalah Pendidikan Sepanjang Hayat - Gudang Makalah

BAB II
PEMBAHASAN

Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. 
Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer, dan instruktur. 

Sedangkan pembelajaran, merupakan perpaduan dari dua aktivitas yaitu belajar dan mengajar. Menurut R. Gagne (1989), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.  Sedangkan “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar”, yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Jadi, istilah pembelajaran diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. 

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. 
1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indera
3. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya
5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama

1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
2. Pembelajaran dapat lebih menarik
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
6. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
7. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
8. Peran guru berubah ke arah yang positif 

Media dibagi kedalam bebarapa kelompok diantaranya :
1. Kelompok kesatu : media grafis, bahan cetak, dan gambar diam
2. Kelompok kedua : media proyeksi diam
3. Kelompok ketiga : media audio
4. Kelompok keempat : media audio visual diam
5. Kelompok kelima : film (motion pictures)
6. Kelompok keenam : televisi
7. Kelompok ketujuh : multi media 


Media dua dimensi adalah sebutan umum untuk alat peraga yang hanya memiliki ukuran panjang dan lebar yang berada pada satu bidang datar.
Media garfis adalah Suatu penyajian yang secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual lain dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan, dan mengakum suatu ide, data atau kejadian. Karakteristik media grafis dapat di lihatbberdasrakan ciri-cirinya, keleibihan, kelemahannya, unsur-unsur desain dan kriteria pembuatannya, dan jenis-jenisnya. Ciri-ciri media grafis yaitu media dua dimensi sehingga hanya dapat di lihat dari bagian depannya saja, media visual diam sehingga hanya dapat diterima melalui indar mata. Kelebihan yang dimiliki media grafis yaitu : bentuknya sederhana, ekonomis, bahan mudah diperoleh, dapat menyampaikan rangkuman, mampu mengatasi keterbatasan. Kelemahan media garfis yaitu :  tidak dapat menjangkau kelompok besar, hanya menekankan persepsi indra penglihatan saja, tidak menggnakan unsur audio dan motion.

Gambar adalah bahasa/ bentuk rupa yang umum; garfik adalah pemakaian lambang visual untuk menjelaskan suatu perkembangan suatu keadaan ; bagan adalah penyajian ide-ide atau konsep-konsep secara visual yang sulit bila hanya di sampaikan secara tertulis atau lisan; poster meruapakan perpaduan antara gamabr dan tulisan untuk menyampaikan informasi, saran, seruan, peringatan atau ide-ide lain; karton dan karikatur adalah gamabaran tentang seseorang, suatu buah pikiran atau kedaan dapat di tuangkan dalam bentuk lukisan yang lucu; peta datara adalah penyajian visual yang merupakan gambaran datar sari permukaan bumi; transparansi OHP adalah suatu karya grafis yang di buat si atas sehelai plastik yang tembus pandang kemudian diproyeksikan ke layar dengan proyektor OHP. Media grafis juga harus memiliki unsur-unsur desain yang bekerja sama membentuk komposisi yang baik, media grafis juga harus mempertimbangkannya dalam pembuatannya berorientasi pengalaman  agar dapat menyenangkan orang yang melihat, sehingga pesan yang di sampaikan dapat di terima.
Media bentuk papan yang di ringkas di sini terdiri dari papan tulis, papan tempel, papan flanel, dan papan magnet. 
- Fungsi papan tulis adalah untuk menuliskan pokok-pokok keterangan guru dan menuliskan rangkuman pelajaran dalam bentuk ilustrasi, bagan, atau gambar. Keuntungan menggunakan papan tulis adalah dapat didgunakan di segala jenis tingakatan lembaga. Kekurangan nya adalah memungkinkan sukarnya mengawasi aktifitas murid, berdebu, kurang memungkinkan bagi guruyang tulisannya jelek.
- Papan tempel adalah sebilah papan yang fungsinya sebagai tempat untuk menempelkan pesan dan suatu tempat untuk menyelenggarakan suatu display yang merupakan bagian aktivitas penting suatu sekolah. Keutungannya : menarik perhatian, memperluas pengertian kepada anak, mendorong kreativitas. Kelemahannya: sulit memantau apakah semua musrida dapat memperhatikan, kemungkinan terjadi gangguan kenakalan, membosankan jika terlalu lama dipasang. 
1. Papan flanel
Sering juga disebut sebagai visual board, adalah suatu papan yang di lapisi kain flanel atau kain yang berbulu dimana padanya diletakan potongan gambar-gambar atau simbol lain.
2. Papan magnet merupakan fungai ganda, yaitu sebagai papan tulis papan tempel dan sebagai tempat memproyeksikan fillm atau slide. 
- Keistimewahannya adalah : alat tulisnya khusus, tidak terkena debu, lebih mudah dipindah-pindahkan, meningkatkan perhatian dan semangat belajar siswa karena tulisan yang lebih terang. 
- Kelebihannya adalah : daya rekat tempelan relatif lebih kuat sebagai akibat interaksi magnetik, simbol-simbol dapat dipindah -  pindahkan tanpa mengangkat, lebih bergengsi.
Secara historis, istilah media cetak muncul setelah ditemukannya alat pencetak oleh johan gutenberg pada tahun 1465. Kemuudian dalam bidang percetakan berkembanglah produk alat pencetakan yang semakin modern dan efektif penggunaanya. Jenis – jenis media cetak yang disarankan disini adalah : buku pelajaran, surat kabar dan majalah, enslikopedi, buku suplemen, dan pengaajaran berprogram.
- Buku pelajaran sering disebut buku teks adalah suatu penyajian dalam bentuk bahan cetakan secara logis dan sistematis tentang suatu cabang ilmu pengetahuan atau bidang studi tertentu. 
- Surat kabar dan majalah adalah media komunikasi masa dalam bentuk cetak yang tidak perlu diragukan lagi peranan dan pengaruhnya terhadap masyarakat pembaca pada umumnya. Ditinjaau dari segi isinya, surat kabar atau amajalah dapat dibedakan menjadi surat kabar dan majalah umum dan surat kabar dan majalah sekolah.
- Ensiklopedi atau kamus besar yang memuat berbagai peristilahan umum pengetahuan terbaru akan menjadi sumber belajar yang cukup penting bagi siswa. Dan insiklopedi merupakan sumber bacaan penunjang.
- Buku suplemen dapat berfungsi sebagai bahan pengayaan bagi anak, baik yang berhubungan dengan pelajaran maupun tidak. Yang temasuk buku suplemen yaitu karya fiksi maupun non fiksi.
- Pengajaran pemrograman adalah salah satu sistem penyampaian pengajaran dengan media cetak yang memungkinkan siswa belajar secara induvidual sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya serta memperoleh hasil yang sesuai dengan kemampuannya juga. Menurut jenisnya pemrograman dibagi menjadi dua yaitu : pemrograman linear dan pemrograman bercabang. 
- Komik adalah suatu bentuk sajian cerita dengan seri gambar yang lucu. Menurut fiungsinya, komik dibedakan atas komik komersial dan komik pendidikan. Komik komersial jauh diperlukan dipasaran karena : bersifat personal, menyediakan humor yang kasar, dikemas dengan bahasa percakapan dan bahasa pasaran, memiliki kesedrhanaan jiwa dan moral, dan adanya kecenderungan manusiawi universal terhadap pemujaan pahlawan. Sedangkan komik pendidikan cenderung menyediakan isi yang bersifat informatif. Komik pendidikan banyak diterbitkan oleh industri, dinas kesehatan, dan lembaga-lembaga non profit. 
Media tiga dimensi ialah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional. Kelompok media ini dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup maupun mati, dan pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya.
Moedjiono (1992) mengatakan bahwa media ssederhana tiga dimensimemiliki 
- Kelebihan : memberikan pengalaman secara langsung, penyajian secara kongkrit dan menghindari verbalisme, dapat menunjukan alur suatu proses secara jelas. 
- Kelemahannya adalah : tidak bisa menjangkau secara dalam jumlah yang besar, penyimpanannya memerlukan ruang yang besar dan perawatannya yang rumit.
a. Belajar benda sebenarnya melalui widya wisata.
Widya wisata adalah kegiatan belajar yang dilaksanakan melalui kunjungan kesuatu tempat diluar kelas sebagai bagian integral dari seluruh kegiatan akademis dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
b. Belajar benda sebenarnya melalui specimen.
Terminologi benda sebernarnya digolongkan atas dua, yaitu obyek dan banda contoh (specimen). Obyek adalah semua benda yang masih dalam keadaan asli dan alami. Sedangkan specimen adalah benda-benda asli atau sebagian benda asli yang digunakan sebagai contoh. 
c. Belajar melalui media tiruan.
Media tiruan sering disebut sebagai model. Ada beberapa tujuan belajar dengan menggunakan model, yaitu : mengatasi kesulitan yang muncul ketika mempelajari obyek yang terlalu besar, utuk mempelajari obyek yang sudah menjadi sejarah dimasa lampau. Keuntungan-keuntungan menggunakan model adalah : belajar dapat difokuskan pada bagian yang penting-penting saja, dapat mempertunjukan struktur dalam suatu obyek, siswa mempperoleh pengalaman yang kongkrit. 
d. Peta timbul.
Peta timbul yang secara fisik termasuk model lapangan, adalah yang dapat menunjukan tinggi rendahnnya permukaan bumi. Peta timbul memiliki ukuran panjang, lebar, dan dalam.
e. Boneka.
Boneka yang merupakan salah satu model perbandingan adalah benda tiruan dari bentuk manusia dan atau binatang. Penggunaanya boneka dimainkan dalam bentuk sandiwara boneka. 
Berkaitan dengan media yang diperlukan dalam pembelajaran PKn. Pelajaran ini dapat dapat dilakukan diluar kelas. Pelajaran ini tergolong santai sehingga sangat mudah bagi guru mengajarkan pelajaran tersebut di luar kelas. Bahkan, pelajaran ini memang sebaiknya diajarkan di luar kelas, bukan di dalam kelas. Sebab, pelajaran PKn merupakan pelajaran moral dan cara kita hidup bernegara. Oleh karena itu, pelajaran ini tidak akan berhasil jika hanya disampaikan di dalam kelas. Para siswa mendapatkan pengalaman dari pelajaran ini di luar kelas. Contoh mengajarkan PKn di luar kelas, misalnya pada bab tolong – menolong siswa dapat diajak mengunjungi PMI (Palang Merah Indonesia). 

a. Langkah – langkah perancangan media
1. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa
Sebuah perencanaan media didasarkan atas kebutuhan (need). Salah satu indikator adanya kebutuhan karena di dalamnya terdapat kesenjangan (gap). Kesenjangan adalah adanya ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya atau apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki. Adanya kebutuhan, seyogianya menjadi dasar dan pijakan dalam membuat media pembelajaran, sebab dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik.
2. Perumusan tujuan
Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan karena dengan tujuan akan mempengaruhi arah dan tindakan kita. Dengan tujuan itu pulalah kita dapat mengetahui apakah target sudah dapat tercapai atau tidak. Tujuan yang baik, yaitu yang jelas, terstruktur, operasional, tidak mudah untuk dirumuskan oleh guru, diperlukan latihan, penelaahan terhadap kurikulum dan pengalaman saat melakukan pembelajaran di kelas. Namun, sebagai patokan, sebaiknya perumusan tujuan haruslah memiliki ketentuan sebagai berikut :
a. Learner oriented. Dalam merumuskan tujuan, harus selalu berpatokan pada perilaku siswa, dan bukan pada perilaku guru. Sehingga dalam perumusannya kata – kata siswa secara eksplisit dituliskan. Selain itu, perilaku yang diharapkan dicapai harus mungkin dapat dilakukan siswa dan bukan perilaku yang tidak mungkin dilakukan siswa. Tujuan itu berorientasi pada hasil, sehingga secara kuantitas dapat diukur.
b. Operational. Perumusan tujuan harus dibuat secara spesifik dan operasional sehingga mudah untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Tujuan yang spesifik ini terkait dengan penggunaan kata kerja. Kata kerja yang umum akan menghasilkan perilaku atau tindakan siswa yang juga bersifat umum, namun sebaliknya kata kerja yang khusus akan menghasilkan perilaku yang khusus pula.
c. ABCD. Untuk memudahkan merumuskan tujuan pembelajaran, Baker (1971) membuat formula teknik perumusan tujuan pembelajaran dengan rumus ABCD dengan penjelasan sebagai berikut :
A Audience, artinya sasaran sebagai pembelajar yang perlu dijelaskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan tersebut diberikan. Sasaran yang dimaksud di sini misalnya siswa SD kelas IV, Siswa SMP kelas 2, siswi SMA kelas 3 dan lain – lain
B Behaviour, adalah perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan atau dimunculkan siswa setelah pembelajaran berlangsung. Behaviour ini dirumuskan dalam bentuk kata kerja. Contohnya : menjelaskan, menyebutkan, merinci, mengidentifikasi, memberikan contoh dan sebagainya.
C Conditioning, yaitu keadaan yang harus dipenuhi atau dikerjakan siswa pada saat dilakukan pembelajaran, misalnya : dengan cara mengamati, tanpa membaca kamus, dengan menggunakan kalkulator, dengan benar dan sebagainya.
D Degree, adalah batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan. Penentuan ini tergantung pada jenis bahan materi. Contoh : 3 buah, minimal 80%, empat jenis, dan sebagainya.

3. Perumusan materi
Titik tolak perumusan materi pembelajaran adalah dari rumusan tujuan. Materi berkaitan dengan substansi isi pelajaran yang harus diberikan. Materi perlu disusun dengan memperhatikan kriteria – kriteria tertentu, diantaranya:
a. Sahih atau valid, materi yang dituangkan dalam media untuk pembelajaran benar – benar telah teruji kebenarannya dan kesahihannya. Hal ini juga berkaitan dengan keaktualan materi sehingga  materi yang disiapkan tidak ketinggalan jaman, dan memberikan kontribusi untuk masa yang akan datang.
b. Tingkat kepentingan (significant), dalam memilih materi perlu dipertimbangkan pertanyaan sebagai berikut, sejauhmana materi tersebut penting untuk dipelajari? Penting untuk siapa? Dimana dan mengapa? Dengan demikian materi yang diberikan kepada siswa tersebut benar – benar yang dibutuhkannya.
c. Kebermanfaatan (utility), kebrmanfaatan yang dimaksud haruslah dipandang dari dua sudut pandang yaitu kebermanfaatan secara akademis secara akademis dan non akademis, secara akademis materi harus bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan siswa sedangkan non akademis materi harus menjadi bekal berupa file skill baik berupa pengetahuan aplikatif, keterampilan dan sikap yang membutuhkannya dalam kehidupan keseharian.
d. Learnability, artinya sebuah program harus dimungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah, sulit, ataupun sukar) dan bahan ajar tersebut layak digunakan sesuai dengan kebutuhan setempat.
e. Menarik minat (interest), materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus menimbulkan keingintahuan lebih lanjut, sehingga memunculkan dorongan lebih tinggi untuk belajar aktif dan mandiri.
4. Perumusan alat pengukur keberhasilan
Alat pengukur keberhasilan belajar ini perlu dikembangkan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan dan harus sesuai dengan materi yang telah disiapkan. Yang perlu diukur adalah tiga kemampuan utama yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan. Dengan demikian terdapat hubungan yang erat antara tujuan, materi, dan tes pengukur keberhasilan.


1. Kriteria umum pemilihan media
a. Kesesuaian dengan tujuan (instructional goals)
Dari kajian instruktional umum TIU atau instruksional khusus TIK ini bisa dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan tersebut. Selain itu, analisis dapat diarahkan pada taksonomi tujan dari Bloom, apakah tujuan itu bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik. 
b. Kesesuaian dengan materi pembelajaran (instructional content)
Suatu bahan atau kajian apa yang akan diajarkan pada program pembelajaran tersebut. 
c. Kesesuaian dengan karakteristik dengan pembelajar atau siswa 
Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa atau guru yaitu mengkaji sifat – sifat dari ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan.
d. Kesesuaian dengan teori
Media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatu media yang dianggap paling disukai dan paling bagus, namun didasarkan atas teori yang diangkat dari penelitian dan riset sehingga telah teruji validitasnya.
e. Kesesuaian gaya belajar siswa
Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis siswa bahwa siswa belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar siswa.
f. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.
Bagaimana bagusnya sebuah media, apabila didukung oleh fasilitas dan waktu yang tersedia, maka kurang efektif.
Sejumlah kriteria khusus dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu : Akronim dari : Access, cost, tecnology, interactivity, organization, dan Novelty.
a. Access. Kemudahan access menjadi pertimbangan media, apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid.
b. Coast. Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita, pada umumnya media canggih cenderung mahal.
c. Tecnology. Tecnology yang digunakan harus tersedia dan mudah menggunakannya.
d. Interactivity. Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau inteaktivitas.
e. Organization. Pertimbangan yang juga penting adalah organisasi. Misalnya pimpinan sekolah atau yayasan mendukung?
f. Novelty. Kebaruan dari media yang dipilih harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.
Drs. Sudirman N. ( 1991 ) mengamukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibaginya kedalam tiga kategir, sebagai berikut :
1. Tujuan Pemilihan
Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran ( siswa belajar ), untuk informasi yang bersifat umum, ataukah untuk sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong ? lebih spesifik lagi, apakah untuk pengajaran kelompok atau pngajaran individual, apakah untuk sasaran tertentu seperti anak TK, SD, SMP, SMU, tuna rungu, tuna netra, masyarakat pedesaan, atau masyarakat perkotaan.
2. Karakter Media Pengajaran
Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik lihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya maupun cara penggunaanya. Memahami karakteristik berbahgai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran.
3. Alternatif Pilihan
Memilih pada hakikatnya adalah proses pembuatan keputusan dari berbagai alternative pilihan. Guru bias menetukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang dapat diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu, maka guru tidak bias memilih, tetapi menggunakan apa adanya.
Dalam menggunakan media hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip dan dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip – prinsip menurut Dr. Nana sudjana adalah :
1. Menentuakan jenis media yang tepat, artinya,  sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan yang akan diajarkan.
2. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media dalam pengajaran haruslah disesuaikan dengan tingkat kematangan ? kemampuan anak didik.
3. Menyajikan media dengan tepat, artinya, teknik dan metode menggunakan media dalam pengajaran haruslah disesuaikan dengan tujuan, bahan metode, waktu dan sarana.
4. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tept, artinya, kapan dan adalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan.
Dasar Pertimabangan Pemilihan dan Penggunaan Media
1. Faktor – Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memilih Media
a. Objektifitas, unsur subjektifitas guru dalam memilih media pengajaran harus dihindarkan. Artinya, guru tidak boleh memilih suatu media pengajaran atas dasar kesenangan pribadi. Secara objektif.
b. Program Pengajaran, program pengajaran yang akan di sampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun kedalamannya. 
c. Sasaran Program, sasaran program yang dimaksud adalah anak didik yang akan menerima informasi pengajaran melalui media pengajaran.
d. Situasi dan kondisi, situasi dan kondisi yang ada juga harus memiliki perhatian dalam menentukan media pilihan media pengajaran yang akan digunakan.
e. Kualitas Teknik, dari segi teknik, media pengajaran yang akan digunakan perlu diperhatian, apakah sudah memenuhi syarat.
f. Keefektifan dan Efisiensi Penggunaan, keefektifan berkenaan dengan hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut.
Apabila akan mengunakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang telah ada, guru dapat menjadikan kriteria berikut :
a. Apakah topic yang akan di bahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar ?
b. Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik ?
c. Apabila media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku ?
d. Apakah materi yang disajikan otentik dan actual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui masa dan peristiwa yang telah lama terjadi ?

Menurut Nana Sudjana dan Ahmat Rivai ( 1991:5 ) juga mengemukakan bahwa dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajarannya, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan intruksional tujuan yang telah di tetapkan.
2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi, sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
3. Kemudahan memperolehnya, artinya media yang di perlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah di perbuat oleh guru pada mengajar.

Media pengajaran adalah suatu alat bantu yang tidak bernyawa. Alat ini bersifat netral. Peranannya akan terlihat jika guru pandai memanfaatkan dalam belajar mengajar. Media apa yang akan di manfaatkan oleh guru ? Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, media mempunyai beberapa fungsi. Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi sebagai berikut :
1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integram dari keseluruhan situasi mengajar
3. Media pengajaran dalam pengajaran, penggunaanya integral dengan tujuan dari isi pelajaran.
4. Pengguaan media dala m pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5. Penggunaan media dalam pengajaran lebih di utamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.

Tetapi pemanfaatan media pengajaran juga tidak asal-asalan menurut keingingan guru, tidak berencana dan sistematik. Guru harus memanfaatkan meurut langkah-langkah tertentu, dengan perencanaan yang sistematik. Ada enam langkah yang bias ditempuh guru pada waktu ia mengajar dalam mempergunakan media :
1. Merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media
2. Persiapan guru. Pada fase ini memilih dan menetapkan media mana yang akan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan.
3. Persiapan kelas. Fase ini siswa atau kelas harus mempunyai persiapa, sebelum mereka menerima pelajaran dengan menggunakan media.
4. Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media. Pada fase ini penyajian bahan pelajaran dengan memanfaatkan media pelajaran.
5. Langkah kegiatan belajar siswa. Fase ini siswa belajar dengan memanfaatkan media pengajaran. 

Prosedur memilih media secara umum terbagi dalam dua format, Arif Sadiman (1996 : 87) mengemukakan dua format, yaitu  flowchart, matrik, dan checklist.
- Format flowchart menggunakan sistem pengguguran atau eliminasi dalam pengambilan keputusan pemilihan, jika salah satu beropsi tidak, maka gugur dan berpindah pada langkah selanjutnya.
- Format matrik menangguhkan proses keputusan pemilihan sampai semua kriterianya dipertimbangkan.
- Format checklis. Format evaluasi terhadap media dapat menggunakan ceklis, sesuai dengan istilah ceklis maka kita tinggal memberikan penilaian dengan memberi tanda dan memberi nilai pada rentang penilaian media. 


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Klasifikasi Media Pembelajaran
Media dibagi kedalam bebarapa kelompok diantaranya :
- Kelompok kesatu : media grafis, bahan cetak, dan gambar diam
- Kelompok kedua : media proyeksi diam
- Kelompok ketiga : media audio
- Kelompok keempat : media audio visual diam
- Kelompok kelima : film (motion pictures)
- Kelompok keenam : televisi
- Kelompok ketujuh : multi media
3. Langkah – langkah perancangan media
a. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa
b. Perumusan tujuan
c. Perumusan materi
d. Perumusan materi
4. Kriteria umum pemilihan media
a. Kesesuaian dengan tujuan (instructional goals)
b. Kesesuaian dengan materi pembelajaran (instructional content)
c. Kesesuaian dengan karakteristik dengan pembelajar atau siswa 
d. Kesesuaian dengan teori
e. Kesesuaian dengan teori
f. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.
5. Prosedur memilih media secara umum terbagi dalam dua format, Arif Sadiman (1996 : 87) mengemukakan dua format, yaitu  flowchart, matrik, dan checklist.

DAFTAR PUSTAKA


0 comments