Makalah Implementasi Kurikulum

Makalah Pengembangan Kurikulum dan Implementasinya


Bab I
Pendahuluan


Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan  bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat nilai-nilai pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya (Sukmadinata, 2004). Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan peserta didik, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh peserta didik, keluarga, dan masyarakat.

Kelas merupakan tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Di sana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat, dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum. Dialah sebenarnya perencana, penilai, dan pengembang kurikulum sesungguhnya. Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang lebih baik (Subandijah, 1993).

Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai bukan semata-mata memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih dititik beratkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pengembangan kurikulum merupakan proses yang menyangkut banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, antara lain pertimbangan akan pernyataan tentang kurikulum, siapa yang terlibat dalam pengembangan kurikulum, bagaimana prosesnya, apa tujuannya kepada siapa kurikulum ditujukan. Dalam makalah ini kami hanya memfokuskan pada siapa yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.Berdasarkan uraian tersebut, maka timbul suatu permasalahan:  siapa saja pihak-pihak yang mempengaruhi pengembangan kurikulum? Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui pihak-pihak yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.

B. Rumusan Masalah

C. Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana peranan para admistrator pendidikan
2. Untuk mengetahui bagaimana peranan para ahli
3. Untuk mengetahui bagaimana peran kepala sekolah dalam pengembangan kurikulum
4. Untuk mengetahui bagaimanaperan guru dalam pengembangan kurikulum
5. Untuk mengetahui bagaimana peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum
6. Untuk mengetahui bagaimana peran siswa dalam pengembangan kurikulum

Makalah Implementasi Kurikulum
Makalah Implementasi Kurikulum


Bab II
Pembahasan


Dalam pengembangan suatu kurikulum hendaknya Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengembangan Kurikulum tersebut, adalah :
Peranan para administrator di tingkat pusat dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum (Sukmadinata, 2004). Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para administrator daerah  dan administrator lokal mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Administrator Tingkat Pusat (direktur, kepala pusat) mempunyai wewenang dan kepemimpinan untuk mengarahkan orang serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai tujuan yaitu dalam penyusunan kerangka kurikulum, dasar hukum, dan program inti kurikulum. Dengan adanya kerangka dasar dan program inti,selanjutnya dapat ditetapkan jenis dan jumlah mata pelajaran minimal yang diperlukan.
Administrator Tingkat Daerah (dinas pendidikan tingkat kotamadya atau kabupaten) bertugas berdasarkan kerangka dasar dan program inti dari tingkat pusat dan melakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhannya. Administrator tingkat daerah mempunyai wewenang merumuskan sistem operasional pendidikan bagi sekolahnya. Selain itu juga berkewajiban mendorong dan mengimplementasikan kurikulum pada setiap sekolah, bekerjasama dengan kepala sekolah dan guru – guru dalam pengembangan kurikulum di sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, melakukan sosialisasi, serta melaksanakan kurikulum di sekolah tersebut.
Kepala sekolah yang mempunyai tugas yang lebih berkenan dengan implementasi kurikulum di sekolah. Peran kepala sekolah dan guru sangat besar dan merupakan kunci keberhasilan pengembangan kurikulum.

Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi/disiplin ilmu. Dengan mengacu pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah, baik kebijaksanaan pembangunan secara umum maupun pembangunan pendidikan, perkembangan tuntutan masyarakat dan masukan dari pelaksanaan pendidikan dan kurikulum yang sedang berjalan, para ahli pendidikan memberikan alternative konsep pendidikan dan model kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat.

Kepala sekolah merupakan tokoh kunci dalam manajemen sekolah.Padanyalah kebijakan dan keputusan mengenai berbagai hal. Menurut Chamisijatin (2008:5-7) secara umum, perandan fungsi kepala sekolah adalah sebagai berikut:
Sebagai manajer, kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen sekolah. Kepala sekolah mengkoordinasikan kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, dan mengendalikan segenap usaha pencapaian tujuan pendidikan. Implementasinya dalam pengembangan kurikulum sekolah kepala sekolah bertugas untuk:
a. Dalam aspek perencanaan, kepala sekolah merupakan pelaku yang selalu terlibat dan bahkan sering menjadi tumpuan dalam kegiatan perencanaan dan pengembangan kurikulum, mulai dari konsep hingga hal-hal yang lebih teknis. Bisa jadi ia tidak terlibat secara fisik pada keseluruhan kegiatan perencanaan, namun kepala sekolah terus melakukan pemantauan dari waktu ke waktu.
b. Dalam aspek pengorganisasian, kepala sekolah mengorganisasikan unsur-unsur, baik unsur manusia maupun unsur nonmanusia. Unsur-unsur itu diorganisasikan untuk membangun sinergi antarunsur. Dari sinergi tersebut tercipta daya baru dengan kualitas yang lebih bernilai bagi pengembangan kurikulum sekolah.
c. Dalam aspek pelaksanaan, kepala sekolah juga sebagai pelaksana lapangan. Ia adalah orang yang mengkoordinasikan pengembangan kurikulum, dan sekaligus menerjadikan atau menerapkan kuirikulum. Kepala sekolah mengemban tugas memimpin. Dalam hal ini kepala sekolah mengarahkan dan memberi komando. Hal yang mendasar disini adalah kepala sekolah harus berperan sebagai penanggung jawab atas pengembangan kurikulum sekolah.
Sebagai tokoh penting di sekolah, kepala sekolah harus mampu melahirkan ide-ide baru yang kreatif. Pengembangan kurikulum sering kali bermula dari gagasan kepala sekolah. Mengingat kedudukannya sebagai pihak yang mengemban tanggung jawab atas sekolah yang dipimpinnya, maka pada diri kepala sekolah cenderung muncul dorongan-dorongan untuk terus memajukan sekolah. Karena kewenangan yang dimilikinya, ide-ide barunya menjadi lebih terbuka untuk diimplementasikan di sekolah. Begitu pula dalam konteks pengembangan kurikulum sekolah ini. Kepala sekolah harus mampu manghadirkan inspirasi dan ide pembaharuan, sehingga program sekolah (kurikulum) yang dijalankan senantiasa aktual/mutakhir.
Dalam pengembangan kurikulum, pelaksana teknis pengembangan biasanya tidak langsung oleh kepala sekolah, melainkan oleh tim khusus yang ditunjuk. Namun demikian, kepala sekolah terus melakukan komunikasi dengan tim itu dan memfasilitasinya untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul. Kepala sekolah harus membantu mengatas persoalan, melayani konsultasi tim, dsb.
Kepala sekolah mempunyai kedudukan strategis dalam pengembangan kurikulum., ia menerjemahkan perubahan masyarakat dan kebudayaan, termasuk generasi muda, ke dalam kurikulum. Dialah tokoh utama yang mendorong guru agar senantiasa melakukan upaya-upaya pengembangan, baik bagi diri guru maupun tugas keguruannya. Karena itu, kepala sekolah perlu mempunyai latar belakang yang mendalam tentang teori dan praktik kurikulum. Perubahan kurikulum hanya akan berjalan dengan dukungan dan dorongan kepala sekolah. Ia dapat membangkitkan atau mematikan perubahan kurikulum di sekolahnya. Masih bnyak pihak lain, selain kepala sekolah, yang dapat membantu pengembangan kurikulum. Namun demikian, kepala sekolah dan guru merupakan pemeran utama, yang perlu menerima, mempertimbangkan, dan memutuskan apa yang akan dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Kepala sekolah dan stafnya mesti bekerja dalam kerangka patokan yang ditetapkan oleh Depdiknas.

Dalamperannya sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru bukan saja dapat menentukan tujuan dan isi pelajaran yang akan disampaikan, akan tetapi juga dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan serta bagaimana mengukur keberhasilannya. Sebagai pengembang kurikulum sepenuhnya guru dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, misi dan visi sekolah, serta sesuai dengan pengalaman belajara yang dibutuhkan siswa. Pelaksanaan peran ini dapat kita lihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal (Mulok) sebagai bagian dari struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan kurikulum muatan lokal, sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing tiap satuan pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuuhan masing-masing sekolah.

Guru merupakan tokoh sentral dalam penyelenggaraan layananpendidikan sekolah. Gurulah pemeran utama aktivitas sekolah (pendidikan danpembelajaran). Karena itu, tugas guru merupakan profesi yang menuntut keahlian. Bukan sekedar ”tukang mengajar”. Dia harus paham mengenai apa yang disampaikan, mengapa harus disampaikan, dan bagaimana menyampaikannya. Dengan demikian, apa yang dihadapi dan menjadi tugas profesi guru adalah menyangkut hal yang bersifat dinamis. Juga, karena adanya benang merah antara “apa, mengapa, dan bagaimana” maka guru juga menjadi pusat penggerak dinamika itu. Keberadaan guru menjadikan sesuatu bersifat dinamis. Karena tugas guru sehari-hari terkait dengan pelaksanaan kurikulum di sekolah, maka peran guru dalam pengembangan kurikulum sekolah di antaranya menurut Chamisijatin (2008:5-9) adalah sebagai berikut:
1. Guru sebagai pemberi pertimbangan
Keputusan mengenai kurikulum sekolah secara institusional terletak pada tangan kepala sekolah. Dalam konteks ini guru adalah pemberi pertimbangan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Sebagai seorang yang profesional, guru memiliki keahlian di bidangnya, termasuk dalam hal kurikulum atau pendidikan. Oleh karenanya, dalam rangka pengembangan kurikulum, guru perlu memiliki gagasan/ide kreatif untuk mewujudkan harapan-harapan dari pelbagai pihak yang berkepentingan dengan sekolah.
Konsep ini dapat ditarik kedalam dua konteks:
a. Guru sebagai pelaksana proses pengembangan kurikulum sekolah terlibat sebagai tim yang ditunjuk untuk “membuat” kurikulum sekolah. Di sini, guru harus mampu berpikir luas dan komprehensif, bahkan menjangkau masuk ke ruang masa depan. Bersama tim, guru berpikir secara keseluruhan mengenai kurikulum dan segenap potensi yang dimiliki sekolah.
b. Guru sebagai pelaksana kurikulum yang dikembangkan sekolah. Peran ini berkaitan dengan tugas pokok guru sebagai pengampu proses pembelajaran mata pelajaran tertentu. Di sini, guru menjabarkan kurikulum sekolah menjadi bentuk-bentuk program yang lebih rinci (silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran) sampai dengan pengejawantahannya dalam bentuk kegiatan pembelajaran.

Pada umumnya guru akan dapat menilai secara bersifat kritis apakah hasil pengembangan itu terlalu teoretis, apakah dapat diterapkan dalam kelas pembelajaran, atau apakah cara lama lebih praktis dan bermanfaat daripada cara baru yang terlampau banyak menyita waktu dan tenaga. Jika guru menyaksikan pelaksanaan kurikulum itu, bahkan mengalaminya sendiri, maka ia akan lebih mudah menerima berbagai masukan. Dalam melakukan perubahan kurikulum, hendaknya diselidiki dan dipertimbangkan sikap dan reaksi guru terhadap perubahan itu. Guru mempunyai pandangan sendiri tentang kurikulum. Keberhasilan perubahan yang terjadi bergantung pada kesesuaiannya dengan nilai-nitai guru dan taraf partisipasinya dalam perubahan itu. 

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang memegang peranan dalam proses pengembangan kurikulum ialah guru karena dialah yang paling bertanggung jawab atas mutu pendidikan anak-didiknya. Guru menghadapi kesulitan tersendiri karena pada hakikatnya ia bekerja dalam dunia yang terisolisasi. Apa yang dikerjakan dalam kelasnya tertutup bagi dunia luar. Jarang sekali pelajarannya dihadiri oleh orang luar, sehingga ia tidak memperoleh masukan tentang proses belajar-mengajar dalam kelasnya. Ia cenderung tenggelam dalam cengkeraman kegiatan rutin. Pengalaman mengajar yang bertahun-tahun cenderung kurang berdampak pada peningkatan profesionalismenya, karena tindak pembelajaran yang dilakukannya tidak berbeda dari waktu ke waktu. Hanya mengulang-ulang.
Profesionalisme guru akan dapat berkembang, apabila ia membiasakan diri untuk:
a. berunding dan bertukar pikiran dengan siswa,dan terbuka terhadappendapat mereka,
b. belajar terus dengan membaca literatur yang terkait denganprofesinya, 
c. bertukar pikiran dan pengalaman dengan teman guru-guru lainnyaatau dengan kepala sekolah.

Sikap keterbukaan ini memungkinkannya belajar darimurid, dari buku, dan dari orang lain. Perkembangan profesionalisme akan terbantubila sekolah secara berkala mengadakan rapat atau diskusi khusus untukmembicarakan hal-hal yang terkait dengan kurikulum serta perbaikannya.Sebagian dari waktu libur sekolah dapat dimanfaatkan untuk membicarakankekurangan-kekurangan dalam penyelenggaraan kurikulum dan secara bersamamencari usaha perbaikan. Hasil pembicaraan kemudian diterapkan di kelas masing-masingdan mendiskusikannya dengan guru yang lain. Dengan demikian, guru-gurulebih memahami seluk-beluk kurikulum dan menyadari peranannya sebagai pengembang kurikulum, atau pelaksana kurikulum yang kritis dan kreatif. Merekaakan lebih memahami bahwa gurulah unsur utama dalam kurikulum.

Pada penerapan kurikulum yang lalu guru belum menganggap dirinya seorang yang boleh berbicara, bahkan yang mempunyai keahlian dalam bidang kurikulum, khususnya dalam hal kurikulum kelas atau bidang studinya. Ia menganggap dirinya hanya sebagai pelaksana, ibarat tukang yang harus melaksanakan pekerjaan menurut instruksi. Jadi ia hanya terlibat dalam praktik, tanpa memikirkan apa yang dilakukannya.

Menurut Chamisijatin (2008:5-11), keberadaan komite sekolah kian bergulir dengan diberlakukannya otonomi sekolah. Keberadaan komite sekolah (dan dewan pendidikan) secara legal formal tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002. Dalam keputusan menteri ini, komite sekolah dimaksudkan sebagai “sebuah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan baik pada pendidikan prasekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah”. Penamaannya sendiri disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masingmasing satuan pendidikan. Bisa saja misalnya dengan nama Majelis Madrasah, Majelis sekolah, Komite TK, dan sebagainya.

Uraian mengenai komite sekolah dalam bahasan ini pada dasarnya hanya akan dibatasi pada perannya dalam pengembangan kurikulum sekolah. Namun, untuk memperoleh pijakan yang cukup, lebih-lebih komite sekolah juga masih menjadi fenomena baru, maka dipandang perlu untuk disinggung terlebih dahulu hal-hal dasar atas keberadaan komite sekolah. Bahasan tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan untuk menjelaskan peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Pembentukan komite sekolah bertujuan: 
a. mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan sekolah; 
b. meningkatkan tanggung jawab dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan; serta 
c. menciptakan suasana dan kondisi yang transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan sekolah yang berkualitas.

Bertolak dari tujuan tersebut, komite sekolah memiliki peran sebagai berikut:
a. Advisory agency, yaitu pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan sekolah;
b. Suporting agency, yaitu pendukung, baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga, dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah;
c. Controlling agency, yaitu pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan sekolah; serta
d. Mediate agency, yaitu mediator antara pemerintah dan masyarakat.

Peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum tidak terlepas dari keempat peran tersebut. Keempat peran itu saling terkait satu sama lain dan berlangsung secara simultan.
a. Sebagai advisory agence
Komite sekolah dapat memberikan/ menyampai-kan gagasan, usulan-usulan, atau pertimbangan-pertimbangan untuk  penyempurnaan kurikulum yang ada menuju kurikulum sekolah yang lebih baik. Gagasan, usulan, dan pertimbangan ini pada adasarnya dapat diarahkan kepada semua komponen kurikulum, struktur program kurikulum, dll. Walaupun secara pokok sudah tersedia kurikulum tingkat nasional, namun masih terbuka bagi pihak sekolah untuk melakukan eksplorasi, pengembangan, dan penajaman-penajaman, serta dikemas dalam program inti atau program tambahan, kegiatan intrakurikuler ataupun ekstrakurikuler. Dalam peran advisory agence ini pulalah komite sekolah terlibat dalam pengesahan kurikulum sekolah. Karena terkait dengan peran sebagai advisory agence, maka komite sekolah berada dalam komitmen lanjutan.
b. Sebagai suporting agence
Pengembangan kurikulum berkait dengan banyak persoalan, baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung, yang bersifat manusia dan non manusia. Dalam kaitannya dengan hal ini, dukungan komite sekolah dapat berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga. Kurikulum pada dasarnya adalah rencana program pendidikan. Karenanya, dalam pengembangan kurikulum harus dipikirkan dan direncanakan segenap aspek kurikulum. Misalnya, kalau gagasan dan pertimbangan-pertimbangan yang diberikan komite sekolah terkait dengan strategi pembelajaran (salah satu komponen kurikulum), maka dari awal harus sudah dipikirkan pula alat, bahan, media, dan sarana-prasarana. Dengan maksud mewadahi dan memaksimalkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, maka di sinilah peran sebagai suporting agence menjadi sangat menentukan.
c. Sebagai controlling agency
Komite sekolah melakukan kontrol atas penyelenggaraan program pendidikan. Transparansi dan akuntabelitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah harus diwujudkan. Karena masyarakat adalah pengguna jasa pendidikan dan melalui konsep suporting agence menjadi terlibat aktif, maka kepada masyarakat pulalah harus dibuka kesempatan untuk melakukan kontrol. Dalam konteks pengembangan kurikulum, peran kontrol komite sekolah ini bisa pula diarahkan pada pengawasan, misalnya, apakah proses pengembangan yang ditempuh sudah memenuhi norma/ketentuan sebagaimana seharusnya, apakah pengembangan kurikulum telah memperhatikan dan melibatkan pihak-pihak yang terkait, apakah sudah terukur untuk kemajuan anak, dsb. Peran ini harus dapat diterapkan agar pengembangan kurikulum benar-benar komprehensif.
d. Sebagai mediate agency
Komite sekolah bertindak sebagai mediator antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Pengembangan kurikulum secara baik menuntut keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak, karena memamg pada dasarnya urusan pendidikan tidak dapat diserahkan pada pemerintah (dinas pendidikan) dan sekolah saja. Tidak jarang lembaga-lembaga masyarakat masih bersikap masa bodoh dan tidak mau terlibat dalam urusan pendidikan/sekolah. Bahkan lembaga pemerintah pun (di luar Depdiknas) masih (sangat) banyak yang bersikap sama. Di sinilah komite sekolah mengambil posisi sebagai mediator, yang pada akhirnya terciptalah pemahaman, saling pengertian, saling dukung, dan sinergi. Dengan peran komite sekolah sebagai mediator, maka pengembangan kurikulum sekolah menjadi lebih terbuka dalam mengekplorasi sumber daya yang ada di sekitar sekolah. Program (kurikulum) sekolah pun menjadi lebih dinamis.

Pada akhirnya, dengan bersinerginya kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum, hal itu akan majadikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih dinamis dan semakin besar peluangnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sekolah tidak semata-mata bermanfaat bagi pencapaian tujuan belajar anak didik, melainkan juga bermanfaat untuk memupuk dan menyuburkan nilai kebersamaan dan tanggung jawab bersma bagi kemajuan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan/sekolah.
F. Peran Siswadalam Pengembangan Kurikulum
Menurut Chamisijatin (2008:5-13), peran siswa dalam pengembangan kurikulum pada umumnya siswa kurang dipertimbangan dalam pengembangan kurikulum karena memang mereka belum mempunyai kompetensi dalam bidang itu. Namun pada tingkat kegiatan kelas, bila guru bertanya, bagaimana pendapatnya tentang pelajaran, apa yang ingin dipelajarinya tentang suatu topik, atau bila guru mengajak siswa turut-serta dalam perencanaan suatu kegiatan belajar, pada pokoknya mereka sudah dilibatkan dalam kurikulum. Di sekolah progresif kepada murid diberikan peranan yang lebih besar lagi tentang apa yang mereka harapkan dari pelajaran. Partisipasi murid sama sekali tidak berarti bahwa keinginan mereka harus selalu dituruti akan tetapi pandangan mereka dapat dimanfaatkan, sekalipun keputusan berada di tangan guru. Memaksakan kurikulum yang tidak mereka sukai, yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka, akan menimbulkan rasa benci bahkan protes, sekalipun tersembunyi, terhadap pelajaran dan sekolah yang mereka nyatakan dalam perbuatan yang tidak diinginkan.


Bab III
Penutup


A. Simpulan
Dalam hal pengembangan kurikulum, banyak pihak-pihak yang terkait di dalamnya, diantaranya :
1. Para admistrator pendidikan
2. Para ahli
3. Kepala sekolah
4. Guru
5. Siswa.


DAFTAR PUSTAKA


Chamisijatin, Lise dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum SD. Jakarta : Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sukmadinata,  Nana S. 2002. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina.2008.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta:Kencana Prenada Media Group
http://www.asikbelajar.com/2015/09/pihak-yang-terlibat-dalam-pengembangan-kurikulum.html

0 comments